Oleh: Bachtiar Adnan Kusuma*
Jumat 30 Januari 2026 I Pukul 08.35 WIB
Apa yang menarik dari Dr. H. Alimuddin, S.H,.M.H,.M.Kn, Tokoh Pendidikan dan Politisi Sulawesi Selatan yang juga Ketua Umum Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Turatea (PP KKT) selama sepuluh tahun memimpin organisasi paguyuban Turatea ini? Penulis sengaja menurunkan tulisan khusus tentang anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan dari Dapil Jeneponto, Bantaeng dan Selayar ini. Selain penulis mengenal beliau sejak masih meniti karier sebagai Humas di Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan Makassar yang didirikan almarhum Andi Cecep Lantara di bilangan Jalan Maccini Raya, Makassar, penulis juga tercatat sebagai mantan Tenaga Ahli Komisi E DPRD Provinsi Sulawesi Selatan dua periode di mana Dr. H. Alimuddin, S.H,.M.H,.M.Kn tercatat sebagai anggota Komisi E DPRD Sulsel yang membidani pendidikan, Kesehatan, Kesra, Pemuda Olah Raga dan Sosial.
Penulis meminjam teori proksimitas atau tepatnya disebut proksemik yang dikembangkan Edward T. Hall pada 1966 yaitu menegaskan tentang bagaimana manusia menggunakan ruang dan jarak fisik dalam interaksi sosial dan komunikasi non verbal. Teori ini menegaskan bahwa kedekatan fisik memengaruhi hubungan interpersonal dan rasa nyaman individu yaitu empat zona jarak masing-masing ; Intim, Pribadi, Sosial dan Politik.
Pertama, aspek kedekatan hubungan emosional (Intim) penulis dengan Dr. H. Alimuddin, S.H,.M.H,.M.Kn menunjukkan kalau pribadinya yang luwes, terbuka, bersahabat dan populis telah membuka ruang hubungan luas dengan semua pihak. Apalagi dengan jabatan non formal yang disandangnya sebagai ketua Umum Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Turatea (PP KKT) telah membuka kotak pandora organisasi paguyuban Turatea yang dikenal lebih memassal selama sepuluh tahun beliau memimpinnya (Genap 10 tahun Juli 2026).
Jujur, tidak banyak orang seperti Dr. H. Alimuddin, S.H,.M.H,.M.Kn yang ikhlas, terbuka dan selalu membantu orang lain untuk sebuah kemajuan. Tidak heran jika Dr. H. Alimuddin, S.H,.M.H,.M.Kn dengan asa mimpi besarnya ingin agar orang-orang Turatea memiliki pendidikan yang tinggi, berkualitas dan berdaya saing dengan daerah-daerah lain di Sulsel.
Apa yang dipikirkan dan dirasakan Dr. H. Alimuddin, S.H,.M.H,.M.Kn bahwa hanya dengan kemajuan sumber daya manusia orang-orang Turatea bisa mencegah kemiskinan. Bukankah teori ekonomi menegaskan kalau hanya dengan pendidikan yang baik, mencegah kemiskinan ”Knowledge Driven of Economy”?
Di pikiran Dr. Alimuddin, tegas kalau ada empat pilar yang perlu memeroleh perhatian memajukan pendidikan dan literasi di kabupaten Jeneponto. Selain diperlukan data-data akurat tentang anak usia sekolah di Jeneponto, juga bertujuan memetakan program pendidikan yang akan diberikan kepada anak-anak Jeneponto agar tepat sasaran. Selain itu, kata pendiri Universitas Mega Rezky Makassar ini, jangan biarkan anak-anak Jeneponto putus sekolah hanya karena faktor biaya.
Pada sisi lain, Alimuddin berharap agar perlu adanya program pendidikan anak-anak Jeneponto untuk belajar keluar negeri sebagai tuntutan global dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Dan, berikutnya kata Alimuddin, pemerintah harus hadir dalam memajukan pendidikan di Jeneponto dengan memberikan program bantuan kepada anak-anak yang memiliki kemampuan akademik, tetapi tidak memiliki kemampuan ekonomi.”Tak ada manusia yang bisa mengubah nasibnya tanpa dengan melakukan usaha dan ikhtiar untuk berubah. Dan hanya lewat pendidikan yang baik, maka manusia bisa mengubah nasibnya,” kata Alimuddin, penulis Buku Potret Pendidikan di era Otonomi Daerah ini.
Karena itu, Alimuddin menegaskan bahwa pengalaman pahit hanya akan indah saat diceritakan, tetapi betul-betul terasa pahit saat dijalani. Makanya, Alimuddin berpesan agar para pemuda dan anak-anak Jeneponto jangan berhenti menempuh pendidikan hanya karena faktor biaya, petik setiap peluang yang ada.
Dan inilah yang kemudian diaplikasikan Alimuddin selama 10 tahun memimpin KKT dengan mengutamakan pendekatan sumber daya manusia dengan mendorong terus menerus putra-putri Turatea agar menempuh pendidikan sampai ke jenjang Doktoral. Karena hanya dengan cara seperti itu, maka kesempatan selalu ada bagi mereka yang teguh berusaha.
Kedua, kedekatan sosial telah dibangun dengan apik selama Dr.H.Alimuddin, S.H. M.H.M.Kn. memimpin KKT. Tidak banyak tokoh seperti beliau yang selalu ikhlas, terbuka tanpa berhitung mengeluarkan biaya pribadi membesarkan organisasi KKT yang telah berhasil dibentuk di berbagai wilayah Provinsi di Indonesia.
Pertanyaannya, masihkah KKT eksis sepeninggal Dr. H. Alimuddin, S.H,.M.H,.M.Kn karena tidak lagi berkenan memimpin KKT periode berikutnya?
Ketiga, potensi politik. Dengan pengalaman panjang di dunia pendidikan dan politik, Dr. H. Alimuddin, S.H,.M.H,.M.Kn adalah politisi ulung, berpenampilan sederhana dan kartu truk politiknya selalu hidup. Karenanya, sosok dan pribadinya tak sekadar tokoh yang pandai mengurai narasi dan diksi.Tapi beliau adalah politisi yang concern dengan pendidikan.
Tak bisa dipungkiri, kalau selama sepuluh tahun memimpin KKT, Dr. H. Alimuddin, S.H,.M.H,.M.Kn telah berhasil menciptakan atmosfer egaliter di lingkungan pengurus dan anggota KKT, selain beliau bersama Sekjend KKT H. Abdul Rachmat Noer, telah berhasil membangun komunikasi persuasif dengan Pemerintah Kabupaten Jeneponto, membantu warga Turatea yang tertimpa musibah kebakaran dan musibah lainnya, mengelola zakat, infaq dan sedekah yang dibagikan kepada warga Turatea yang ada di Makassar maupun di Jeneponto serta mendorong pengurus KKT agar menyelesaikan pendidikannya sampai ke jenjang S3.
Ada diksinya, namun lebih banyak aksinya dalam panggung pendidikan.
Dr. H. Alimuddin, S.H,.M.H,.M.Kn, Berlayar di Lautan Pengabdian. Selamat Munas PP KKT dan terima kasih penulis haturkan kepada Dr. H. Alimuddin, S.H,.M.H,.M.Kn dan selama mengabdi di panggung pengabdian lain Karaeng.



Discussion about this post