“Saya memberi apresiasi tinggi kepada SMA 14 Maros karena di masa MPLS tahun 2026, pihak Kepsek dan guru-gurunya sepakat memberi penguatan ekosistem literasi kepada seluruh siswa baru,”
Rabu 15 Juli 2026 I Pukul 11.12 WIB
Maros, IndoPos86.net – Tokoh Literasi Nasional yang juga Tokoh Pendidikan Sulawesi Selatan, Bachtiar Adnan Kusuma, kembali meluruskan arah Gerakan Literasi Sekolah di MPLS SMA Negeri 14 Moncongloe, Kabupaten Maros. Bachtiar Adnan Kusuma didaulat memberi terapi di tengah rendahnya Asesmen Nasional terutama pada bidang Literasi dan Numerasi di Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) diikuti 150 orang siswa-siswi dan guru-guru, Rabu tanggal 15 Juli 2026 atas undangan Kepala UPT SMA 14 Maros, Nimat, S.Pd.
Bachtiar Adnan Kusuma, menegaskan kalau kemampuan literasi dan numerasi siswa-siswi lemah, berikutnya akan mengalami kesulitan memahami diksi, cerita di dalam berbagai soal Ujian Nasional. Efeknya, kata Ketua GPMB Maros ini, lemahnya potensi akademik termasuk numerasi karena siswa-siswi tidak memahami materi, puncaknya Tes Kemampuan Akademik membuat rendah.
“Di tengah rendahnya kemampuan literasi siswa-siswi, maka diperlukan taktik dan strategi meningkatkan minat baca dan minat menulis secara berkesinambungan di lingkungan satuan pendidikan dan satuan keluarga. Tidak cukup pendidikan literasi hanya bertumpu pada satuan pendidikan semata, melainkan diperlukan semangat kolaborasi dan sinergi antara satuan pendidikan dan satuan keluarga,” kata Tim Pendamping Literasi Daerah Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2021-2022 yang memeroleh SK Gubenur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaeman.
Menurut Bachtiar Adnan Kusuma, pendidikan literasi di satuan pendidikan masih terkesan lemah karena kurangnya dukungan guru-guru, kepala sekolah dan orang tua siswa. Padahal kata BAK, literasi adalah tanggung jawab sosial dan tanggung jawab bersama serta tanggungjawab kolosal.
Bachtiar Adnan Kusuma, menggugah guru-guru agar menjadi teladan dan cermin sekaligus figur contoh yang baik menunjukkan perilaku literasi positif kepada siswa-siswinya. Sebaliknya, pembentukan ekosistem literasi yang produktif di satuan pendidikan tak sekadar menjadi gerakan seremoni, tapi betul-betul menjadi gerakan kebutuhan.

“Kita butuh guru dan kepala sekolah menjadi contoh dan teladan yang baik terutama menunjukkan perilaku literasi yang berkelanjutan dan terukur. Sebaiknya menghindari kegiatan literasi hanya unggul di panggung seremoni, tapi tidak berkelanjutan, apalagi mengakar kepada siswa-siswi,” kata BAK.
BAK menegaskan untuk meningkatkan nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA), tak sekadar mengutamakan tes hafalan, tapi menggugah siswa-siswi agar membaca, menalar dan memahami konsep dalam konteks nyata. Tidak heran, kata BAK jika fakta menunjukkan nilai TKA terutama matematika masih rendah karena sulitnya siswa-siswi memahami teks soal.
Tegasnya, kata BAK literasi kita masih lemah dan masih rendah terutama di berbagai SMA dan SMK di Sulawesi Selatan. Apalagi kata BAK, numerasi masih lemah akibatnya siswa-siswi bingung menghafal rumus dan menerapkannya.
Karena itu, BAK menggugah agar siswa-siswi SMA 14 Maros bisa menjadi contoh yang baik terutama menciptakan sekolah yang melek literasi. Caranya, kata BAK adalah memberikan nutrisi literasi kepada siswa-siswi sejak awal terjaring di SMA 14.
“Saya memberi apresiasi tinggi kepada SMA 14 Maros karena di masa MPLS tahun 2026, pihak Kepsek dan guru-gurunya sepakat memberi penguatan ekosistem literasi kepada seluruh siswa baru,” kata BAK.
Hanya dengan cara seperti ini, selanjutnya siswa bisa mengasah sejak awal kemampuan membaca, memahami dan menafsirkan informasi. “Saya mengajak siswa-siswi peserta MPLS SMA 14 Maros agar diujung acara ini semuanya termasuk guru-guru berkunjung ke perpustakaan sekolah, memilih buku dan menafsirkan isi dari buku yang dibaca plus menuliskannya,” tutup Bachtiar Adnan Kusuma. (Red/IndoPos86.net).



Discussion about this post