“Gerakan Da’i menulis apa yang disampaikan secara lisan di masjid-masjid, kemudian diterbitkan menjadi buku, otomatis ikut serta menyembuhkan kurangnya akses buku bacaan tentang Islam,”
Jumat 20 Februari 2026 I Pukul 05.07 WIB
Sumatera Barat, IndoPos86.com – Masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga sebagai pusat pendidikan dan pusat kebudayaan yang sangat vital di tengah umat Islam.
Tokoh literasi Nasional yang juga Penggerak, Motivator Gerakan Satu Masjid Satu Perpustakaan Pengurus Pusat Ikatan Alumni Pemuda Remaja Masjid Indonesia dan Perpustakaan Nasional, menegaskan dengan hadirnya perpustakaan masjid di setiap satuan masjid adalah hal yang krusial dan sangat penting saat ini di tengah kondisi masyarakat Indonesia yang masih darurat akses buku-buku bermutu, akibatnya umat Islam mengalami ketertinggalan.
Bachtiar Adnan Kusuma di Bincang Sore Ramadhan yang digelar Rumah Baca Anak Nagari, Provinsi Sumatera Barat dipandu Hernan Pratama, Kamis 19 Februari 2025 Live, kembali menegaskan bahwa ‘Umat Islam yang Berdaulat dalam Literasi’ maka akan melahirkan Umat Islam yang jaya, terampil, dan siap menghadapi tantangan zaman.
Menurut Ketua Forum Penerima Penghargaan Tertinggi Nugra Jasadharma Pustaloka Perpustakaan Nasional ini, mengakui kalau tidak mudah mengembangkan ekosistem perpustakaan masjid untuk kegiatan membaca dan menulis. Namun, ketua GPMB Kabupaten Maros ini membagikan tips beberapa langkah yang harus diikuti.
Pertama, kata Bachtiar Adnan Kusuma, dibutuhkan figur di mesjid seperti pengurus mesjid, pemuda, remaja masjid yang memiliki keberpihakan terhadap gerakan membaca dan menulis di setiap masjid.
Kedua, memiliki visi misi dan agenda aksi yang jelas dalam mengembangkan gerakan membaca dan menulis di mesjid.

Ketiga, lanjut Bachtiar Adnan Kusuma memperbanyak relawan baik dari remaja masjid, karang taruna maupun pemuda pemudi yang tinggal di lingkungan masjid sebagai penggerak perpustakaan masjid.
Keempat, membuka kerjasama dengan pihak luar seperti Perpustakaan Nasional, Pemerintah Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota) agar ekosistem literasi masjid terutama gerakan membaca dan menulis bisa di tingkatkan.
Dan, kata Bachtiar Adnan Kusuma, jika ini dipenuhi maka menjadikan mesjid sebagai pusat gerakan literasi menjadi tidak mustahil, bahkan bisa berkembang menjadi masjid sebagai pusat riset ilmiah.
Karena itu, jika saja para dai dan penceramah yang bertugas menyampaikan tausiah selama 30 malam di bulan Ramadhan diwajibkan menyetor dua halaman tulisan apa yang akan disampaikan di depan jamaah tarwih, maka setiap masjid akan melahirkan satu judul buku selama di bulan Ramadhan dengan jumlah 60 halaman.
Bayangkan saja, kata Bachtiar Adnan Kusuma dengan jumlah masjid di Indonesia ada sekira 315.175 unit, maka kalau diterbitkan kumpulan ceramah ramadhan dari setiap masjid, kita memeroleh 315.175 buku.
Lebih jauh, Bachtiar Adnan Kusuma, di Sumatera Barat ada sekira 5.634 masjid, berarti ada sekira 5.634 buku. Demikian pula di Sulawesi Selatan ada sekira 15.499 masjid berarti akan lahir ribuan buku efek dari dakwah Ramadhan 1447 H.
“Gerakan Da’i menulis apa yang disampaikan secara lisan di masjid-masjid, kemudian diterbitkan menjadi buku, otomatis ikut serta menyembuhkan kurangnya akses buku bacaan tentang Islam. Kita butuh dukungan Pemerintah agar gerakan ini menjadi gerakan Nasional yang tumbuh ke berbagai wilayah di Indonesia,” kunci Bachtiar Adnan Kusuma. (Red/IndoPos86.com).



Discussion about this post