Oleh : Bachtiar Adnan Kusuma*
Senin 2 Februari 2026 I Pukul 10.08 WIB
Lelaki bugis pemilik kearifan
Bupati luwes penuh wibawa
Merubah pola pikir rakyat
Dari aspel ke gagasan membumi
Engkau mengajarkan kesederhanaan
Di kamar dan di mobil asyik membaca buku
IndoPos86.com – Setiap tanggal 2 Februari setiap tahun, penanggalan ini penulis takkan melupakan begitu saja, tanpa melahirkan goresan sederhana. Inilah persahabatan, persaudaraan yang begitu akrab antara penulis dengan pribadi Dr. H.A.S. Chaidir Syam, S.IP.M.H. Sang Bupati Maros yang hari ini, tepat berusia 49 tahun, A.S. Chaidir Syam lahir 2 Februari 1977. Ini adalah untaian diksi cinta, tentang dua insan. Allah pertemukan mereka dalam ikatan suci.
Yang jejaka namanya Andi Syamsuddin. Lalu sang dara adalah Andi Nadjemiah. Keduanya masih ada hubungan kekerabatan. Cukup dekat. Andi Syamsuddin dan Andi Nadjemiah adalah sepupu. Sepupu itu bukan saudara yang serasa saudara. Bukan saudara dalam makna, dia bukan lagi mahram kita. Namun serasa saudara. Karena kekerabatan yang sangat dekat.
Perjalanan cinta, biasanya tidak mulus. Ada saja rintangannya. Justru ini yang membuat kisahnya semakin seru untuk dicerita. Ada sekian banyak rintangan yang coba menghalangi cinta Andi Syamsuddin dan Andi Nadjemiah. Agaknya Andi Nadjemiah ini adalah wanita primadona. Andi Syamsuddin, salah satunya.
Pernikahan antara Andi Syamsuddin dan Andi Nadjemiah terlaksana. Di lingkaran keluarga Andi Nadjemiah, seperti ada aturan yang dipegang teguh. Tidak boleh menikah kecuali dengan keluarga sendiri.
Orang Bugis sebagian memang masih memegang tradisi seperti itu. Itupun harus berdasarkan pilihan orang tua. Mirip-mirip cerita Siti Nurbaya. Waktu itu anak-anak yang dijodohkan tidak membangkang. Mereka yakin orang tua akan memilihkan yang terbaik.
Adalah Andi Nadjemiah, putri dari seorang ayah bernama Andi Baso Petta Tunru anak lelaki dari pasangan Petta Nompo dan Sakka Petta Sinnong. Kalau dilihat dari latar belakangnya, Andi Nadjemiah berasal dari keluarga yang sederhana yang untuk urusan ekonomi boleh dikata berkecukupan.
Ayahnya adalah petani dan ibunya seorang pedagang kelontongan. Dari hasil bertani dan berbisnis itu, roda ekonomi keluarga bisa berputar. Andi Nadjemiah bisa sekolah, juga hasil dari situ, bertaninya sang ayah dan berdagangnya sang ibu.
Calon bayi yang merepotkan, ya. Saya tidak mau berspekulasi tentang pepaya masak dan mangga yang sempurna. Apalagi mencocok-cocoknya dengan fenomena kehidupan.
Hingga hari yang dinanti itu tiba. Bayi yang ditunggu-tunggu itupun lahir ke dunia. Melalui perjuangan yang tidak mudah. Bayi mungil itu lahir di Bone. Sesuai permintaan orang tua bunda Andi Nadjmiah. Chaidir, nama yang dihadiahkan kepadanya. Ya, Chaidir Syam. Bayi itu adalah A.S.Chaidir Syam.
Ayah Chaidir Syam memberikanku nama Chaidir. Ini juga ada ceritanya. Dulu salah satu dokter yang merawat ibu sewaktu mengandung adalah Dokter Chaidir. Ayah memberikan Chaidir Syam, memberi nama Chaidir dengan harapan semoga kelak bisa menjadi dokter juga.
Kemudian kakek memberikan tambahan nama Syafril. Alasannya karena Chaidir lahir di bulan Syafar. Kalau di Maros Chaidir Syam dipanggil Chaidir. Sedangkan di Bone lebih dikenal dengan Syafril.
Baru beberapa hari lahir, Chaidir Syam langsung dibawa ke Maros. Di sana pesta akikah digelar. Jadi boleh dikata, Chaidir Syam hanya menumpang lahir di Bone. Perjalanan hidup selanjutnya akan banyak berlangsung di Maros.
Sejak TK sampai SMA, semuanya Chaidir Syam selesaikan di Maros. Sejak kecil Chaidir Syam telah diajari hidup mandiri. Tidak bergantung kepada orang tua. Sejak SD Chaidir Syam dititipkan kepada pamannya bernama Andi Masykur Petta Nasse. Ia menetap di Maros. Tepatnya di Kassi Kebo, Desa Baju Bodoa.

A.S. Chaidir, nama yang terambil dari seorang dokter. Sederhana saja harapan ayahnya mengambil nama itu, agar kelak anaknya bisa menjadi dokter. Namun terkadang harapan orang tua, harapan anak dengan kenyataan, tidak segaris lurus.
Beberapa orang pun heran, ketika menginjak dewasa saya tidak memilih jalan hidup sebagai seorang dokter. Tapi seorang politisi. Sungguh, dua dunia yang jauh berbeda.
Kini, A.S. Chaidir Syam yang dipersiapkan jadi dokter, faktanya menjadi Bupati Kabupaten Maros dua periode. Tak heran kalau sedari kecil memang tanda-tanda untuk menjadi dokter, sepertinya tidak ada. Kalau disodori permainan yang berhubungan dengan dokter, Chaidir Syam kurang senang. Dan memang tidak begitu lumrah untuk anak kecil di masa itu.
Justru Chaidir Syam begitu antusias ketika ditawarkan mainan pistol-pistol. Seperti merasakan menjadi lelaki seutuhnya kalau sudah memegang pistol. Meskipun itu hanya mainan dan pelurunya pun dari air. Pistol air, permainan yang menjadi primadona. Apalagi kalau ditambah dengan seragam tentara. Luar biasa. Merasa gagah sekali.
“Saya ingat sekali, ada foto yang mengabadikan momen bersejarah itu. Berseragam tentara dengan memegang pistol air. Sempat saya bercita-cita ingin jadi tentara. Ya, cita-cita anak-anak pada umumnya. Sementara dokter, belum terbesit,” ungkapnya.
Rupanya jadi Bupati Maros yang kini menyandang dua gelar Doktor di depan namanya, sebagai Doktor Ilmu Hukum Universitas Muslim Indonesia dan Doktor pada bidang Ilmu Pemerintahan dari Universitas Hasanuddin. Jadilah tokoh yang selalu sederhana, luwes dan tidak berubah.
Cerita menarik tentang Chaidir Syam, diceritakan Andi Nadjemiah kepada Bachtiar Adnan Kusuma yang juga dianggapnya sebagai anaknya sendiri. Nah, cerita tentang Andi Nadjemiah dan Andi Syamsuddin (almarhum), penulis urai kembali
Saat saya akan melahirkan Chaidir Syam, ternyata terlilit oleh ari-ari. Melilit hingga ke leher yang menyebabkan Chaidir Syam sulit bernafas, ini kondisi yang genting, demikian seuntai kisah penggal tentang Chaidir Syam dari cerita Hj. Andi Nadjemiah yang resmi menikah dengan Andi Syamsuddin pada Bulan Maret 1976.
Kurang lebih setahun setelahnya, Allah bermurah hati menghadirkan Chaidir Syam ke dunia, lewat pertemuan keduanya. Tanggal 2 Februari 1977, pasangan Andi Nadjemiah dan Andi Syamsuddin resmi dikaruniai anak. Anak lelaki kesatu dan satu-satunya.
Nah, Andi Nadjemiah kembali membuka memori ungatannya pada 49 tahun yang lalu, tepatnya pada 1 Februari 1977, ia mulai merasakan sakit yang tidak ada lagi sakit di atasnya. Andi Nadjemiah didampingi bidan dan ibunya yang terus-menerus memeluk Andi Nadjemiah dan Petta Latokku yang tercinta mendoakan semoga saya selamat dengan bayi yang telah ditunggu Andi Nadjemiah. Sementara ayah Chaidir Syam, Andi Syamsuddin masih di Maros, dan segera menuju ke Bone. Syukur Alhamdulillah pas tanggal 2 Februari 1977, pukul dua Andi Nadjemiah merasakan nikmat yang tidak ada di atasnya, terharu dan gembira serta bersyukur atas nikmat Allah karena Chaidir Syam telah lahir.
“Terima kasih ya Allah saya selamat dengan anakku, di rumah saya sejak pagi-pagi terus orang berbondong-bondong ke rumah, sembari mengucapkan selamat kepada saya dan memuji semua anakku karena barusan katanya melihat bayi lahir empat kilogram dan segar sekali putih bersih jadi semua orang gemes melihatnya,” cerita Andi Nadjemiah, Senin tanggal 2 Februari 2026.
Karena setelahnya Chaidir Syam lahir tidak lagi memiliki adik. Dikata orang, anak semata wayang. A.S. Chaidir Syam adalah satu-satunya putra dari pasangan Andi Syamsuddin dan Andi Nadjemiah. Selamat ultah adinda Andi Chaidir Syam, sehat selalu dan teruslah menginspirasi….



Discussion about this post