“Sejak awal sayalah orang yg tidak setuju adanya Holding atau penggabungan PTPN.”
Kamis 29 Oktober 2026 I Pukul 14.20 WIB
Medan, IndoPos86.net – Keprihatinan ini dirasakan semua kalangan, baik karyawan masih aktif maupun yang sudah purnakarya.
Dahulu PTPN teridiri dari 14 PTPN dan semua berjalan dengan baik, menjaga lahan dengan baik, menjaga karyawan dengan baik dan berkontribusi kepada negara baik sektor pajak maupun deviden perusahaan.
Untuk kesekian kali HN SERTA GINTING mengkritik kebijakan Penggabungan PTPN di era pak presiden SBY ditahun 2014 dengan membentuk Holding PTPN. Ternyata apa yg di kritisi oleh HN Serta Ginting benar adanya, setelah di gabungkan ternyata dipisah kembali dengan dalih dibagi dalam 3 Sub yakni PTPN 1, PTPN 4 dan PT Sinergi Gula Nusantara.
“Sejak awal sayalah orang yg tidak setuju adanya Holding atau penggabungan PTPN. Dan ternyata benar, sudah digabungkan eh dipecah lagi jadi 4 ada PTPN III sebagai PTPN Group, ada PTPN 1, PTPN4 dan PT SGN, dimana saya dapat info inipun bakal bubar karena semua krisis keuangan,” cetus Serta Ginting dengan wajah kesal dalam keteranganya kepada awak media, Kamis (29/10/2026).

Hal senada juga di sampaikan oleh H. Cucu Syamsuddin sekretaris DPW FKPPN Jawa Barat yg dengan tegas kecewa dengan diacak acaknya PTPN. “Dengan dipecah pecah seperti ini maka hak hak para pensiunan justru malah tidak menentu, karena seolah semua lepas tanggung jawab,” ungkap pak CS alias cucu Syamsuddin.
“Saya berharap dengan banyaknya pihak luar masuk jadi Direksi tidak membuat PTPN hancur tinggal cerita, atau kalo memang ada pihak yg coba coba mau merusak PTPN maka Saya sebagai mantan Ketua Umum FSPBUN mengajak jajaran Karyawan dan pensiunan untuk bergerak melawan semua pihak yg mau membuat PTPN bubar,” tegas Bang Serta Ginting yang juga seorang politisi senior di Golkar.
Sebagaimana diketahui bahwa persoalan nyata dimata publik bahwa PTPN lahanya makin menyusut akibat penggarapan liar dan dengan dalih KSO, karyawan jauh berkurang dan didapati info berhutang yang tidak sedikit, baik kpd perbankan, maupun kepada pihak lain.
Ironi sekali perusahaan plat merah milik negara tapi kacau tata kelolanya. (Rls/IndoPos86.net).


Discussion about this post