Oleh: Bachtiar Adnan Kusuma
Bedah Buku vs Diskusi Buku
Kamis 24 April 2025 I Pukul 10.00 WIB
Maros, IndoPos86.com –
Bedah Buku Atau Diskusi Buku?
Penulis teringat kembali, tatkala Peluncuran buku biografi Prof. Dr. Ir. Mohammad Jafar Hafsah “Sahabat Petani dari Timur“ karya penulis, pada 2009 di Ballroom Sahid Jaya Hotel, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Budayawan dan seniman Rahman Arge, tampil sebagai pembicara dan menyatakan keberatan dengan penggunaan istilah Bedah Buku. Alasannya, kata Arge istilah bedah hanya berlaku dalam dunia medis yaitu operasi pembedahan yaitu prosedur medis yang melibatkan tindakan pada tubuh manusia untuk mengatasi penyakit, cidera atau kondisi medis lainnya.
Apa yang dikemukakan Arge, pemenang Piala Citra Festival Film Indonesia, ada benarnya. Hemat penulis, sesungguhnya buku bukan manusia, tapi benda mati berupa fisik yang isinya kumpulan kertas, lem dan tinta. Kendatipun, sesungguhnya istilah Bedah Buku, konteksnya adalah menganalisis, mengkaji atau mengungkapkan lebih tajam lagi tentang isi sebuah buku.
Bedah buku menurut KBBI adalah diskusi yang membahas seputar konten isi buku. Nah, bedah buku juga dapat diartikan ajang promosi atau memperkenalkan isi buku kepada pembaca ataupun calon yang membaca singkat, padat dan jelas. Makanya, bedah buku tak sekadar membicarakan isi buku saja, tapi juga branded image penulis dan karyanya.
Akan tetapi, bedah buku ini juga berfokus pada latar belakang penulis mengapa mereka menuliskan tema tersebut dan apa tujuan dari penulisan buku tersebut. Termasuk juga alasan mengapa penulis membuat buku dan apa inspirasi yang mendorong penulis tersebut menulis buku yang diterbitkannya.
Kira-kira apa ya manfaat Bedah Buku? Selain bedah buku memiliki manfaat sebagai perkenalan dan motivasi membaca bagi masyarakat juga memberikan manfaat kepada penulis, pembaca, penerbit.
Bedah buku menjadi arena panggung seorang penulis melalui forum bedah buku, selain karena penulis menyampaikan gagasan, pandangan dan cerita inspirating di depan peserta, juga menyampaikan proses kreatif dari sebuah karya buku.
Pada sisi lain, bedah buku bisa saja mendongkrak penjualan dan menambah volume royalti penulis karena bukunya memeroleh apresiasi dari pembaca atau pasar. Selain menjadi prestise, kebanggaan dan rasa puas penulis juga mendukung kurangnya akses buku-buku bermutu di Indonesia.
Berikutnya, apa manfaat bedah buku pada pembaca? Pembaca akan memeroleh motivasi, minat dan wawasan baru tentang terbitnya sebuah buku. Efek dari mengikuti bedah buku akan memeroleh ilmu pengetahuan baru, bisa saja sebelumnya tidak tahu. yang sebelumnya pernah diketahui. Nah, penting lagi, pembaca terdorong ikut serta menulis dan menerbitkan karya tulisnya menjadi buku.
Bagaimana caranya? Pertama-tama menerima dan membaca secara utuh buku yang akan di bedah. Selain itu, mencatat hal-hal penting dari isi sebuah buku.
Caranya mengkritisi isi buku dari aspek fisik buku, cover depan dan belakang, kertas, ukuran, gaya penulisan, isi buku dan apa yang diharapkan penulis dari terbitnya buku tersebut.
Pada sisi lain, mengajukan argumen terhadap apa yang telah dibaca dari isi buku yang dibedah dengan memerhatikan struktur isi, memberikan masukan dan jalan keluar adalah jalan paling terbaik.
Untuk memperkuat argumentasi pada sesi bedah buku, sebaiknya menguasai bacaan atau referensi seperti apa yang dikemukakan terkait dengan Bedah Buku.
Apa Sih Isi Buku Chaidir Syam, “Mencintai Maros Tanpa Batas”
Perjuangan setengah jalan, akan menjadi sebuah pit stop. Tempat beristirahat sejenak. Merenung, mengambil energi, untuk menuntaskan setengah jalan yang belum selesai. Pendeknya bergerak terus, melaju dan tak ada kata jengah.
Timbang-Timbanglah amal kalian, sebelum kelak Allah yang menimbangnya. Seperti itu salah satu perkataan bijak dari Sayyidina Umar bin Khattab. Salah satu dari empat sahabat Rasulullah yang paling utama.
Apa yang dipesankan oleh Sayyidina Umar bin Khattab itu, maknanya sangat dalam. Selagi masih ada di dunia, coba timbang-timbang amal kita. Kira-kira sudahkah ada amalan terbaik yang kelak bisa kita banggakan di hadapan Allah? Timbang-timbang, hitung-hitung, sebelum kelak Allah yang menghitungnya. Di hadapan peradilan Allah, tidak ada kecurangan. Dan yang namanya penyesalan, sudah tidak berguna.
Dan, kalau kita perhatikan perjalanan hidup, Allah telah sediakan waktu-waktu khusus untuk mengoreksi diri. Dalam sehari semalam, ada waktu yang sudah disediakan untuk melakukan refleksi diri. Waktu di sepertiga malam terakhir. Waktu paling baik untuk merenungi dosa-dosa dan meminta ampun atasnya.
Ibarat kapal yang sedang berlayar di samudera nan luas. Setiap saat sang nakhoda wajib melihat jalur. Bisa saja kapal sekali waktu melenceng dari rute yang telah digariskan. Entah karena tiupan angin, mungkin juga sebab hantaman ombak. Sang nakhoda harus sering-sering “merenung”. Kalau mendapati kapal menyimpang dari arah yang seharusnya, cepat-cepat melakukan koreksi. Agar selalu berada di jalan yang benar.
Tak terkecuali dengan amanah jabatan sebagai bupati. Pertanggungjawaban itu bukan hanya ada di ujung masa jabatan. Tetapi dia selalu ada, setiap saat. “Saya menulis buku ini juga sebagai satu titik perenungan. Apa saja yang sudah tercapai. Apa saja yang masih menggantung sebagai impian. Apakah ada yang melenceng dari kepemimpinan ini? Sudah benarkah arah Kabupaten Maros ini melaju? Tanya Dr. H.A.S. Chaidir Syam, S.IP,.M.H.
Perjalanan tiga tahun menuju empat tahun kepemimpinan ini sengaja Chaidir Syam tuliskan. Semua hal, dari pencapaian sampai segala hal belum sempurna. Tulisan ini adalah bentuk refleksi pada perjuangan yang sudah setengah jalan. Andai saja ada yang menyimpang, masih ada waktu untuk dikembalikan. Kalau sudah ada tercapai, masih ada waktu untuk mempersembahkan yang lebih baik lagi.
Buku ini ditulis menggunakan pendekatan biografi birokrat dengan pendekatan jurnalistik semi sastra. Teks biografi membahas tentang tokoh yang sebelum proses menulis kisahnya, terlebih dulu penulis melakukan wawancara dengan tokoh yang bersangkutan, untuk mendapatkan cerita dan pengalaman nyata secara valid dari sang tokoh. Kemudian diramu dengan pendekatan teks sastrawi, roman biografi.
Bagian Pertama, adalah cerita tentang Refleksi, Mundur untuk Maju, bercerita dalam episode awal memutuskan diri maju di Pilkada Maros, Titik-Titik Perenungan, Namanya perjuangan pasti tidak mudah, DPRD Kabupaten Maros dalam Kenangan.
Bagian Kedua, segmen cerita tentang Maros Keren, tentang Maros keren pendidikannya, Pendidikan Perkara yang Tak Bisa Ditawar, Maros keren Kesehatannya, Hadirnya Rumah Sakit Tipe D dan Pencapaian Lainnya, Maros keren Ekonominya, Maros keren Kehidupan Sosialnya, Maros Religius, Penting urusan anak dan Perempuan, Sigap Menangani Bencana, Maros Keren Literasinya, Maros keren Pemudanya.
Bagian Ketiga, segmen Mengukur Pencapaian berisi tentang Alhamdulillah, Melampaui Target, Deretan Penghargaan untuk Masyarakat Maros.
Bagian Keempat, segmen bertitel-Demi Disertasi, Meneliti tentang Maros, Hari yang Dinanti pun Tiba, Catatan Penutup: Sebuah Pidato untuk Pamit, Epilog: Masih Ada Setengah, Gaskan!.
Bagian Kelima, segmen berisi testimoni kerabat kerja dan sahabat dekat dalam-Kata Mereka Tentang Saya.
Perjuangan setengah jalan, akan menjadi sebuah pit stop. Tempat beristirahat sejenak. Merenung, mengambil energi, untuk menuntaskan setengah jalan yang belum selesai. Chaidir Syam, Mencintai Maros Tanpa Batas.
Judul Buku : Mencintai Maros Tanpa Batas
Penulis : Dr. H.A.S. Chaidir Syam, S.IP.M,.H.
Editor : Bachtiar Adnan Kusuma
Halaman : ——187 Halaman
Ukuran : 24 X 27,5 CM
Edisi Luks : Harcover, Jahit Lem
Terbitan : Yapensi atas Dukungan Dispursip Kab. Maros
Tahun : 2024
ISBN : 978-623543425-4.



Discussion about this post