Oleh: Bachtiar Adnan Kusuma*
Kamis 23 April 2026 I Pukul 15.16 WIB
Maros, IndoPos86.net – Benarkah menulis buku itu hebat? Penulis mencoba menggugat kembali budaya menulis kita di Hari Buku Sedunia, pada Kamis 23 April 2026. Caranya dengan menemui guru-guru Taman Kanak-Kanak yang berada di jalan poros Moncongloe-Zipur dan persimpangan kabupaten Maros dan Gowa, Sulawesi Selatan. Selain itu, penulis juga berdiskusi jarak jauh dengan pelaksana Semesta Buku Indonesia dari Kompas Gramedia. Dalam kunjungan dan diskusi jarak jauh tentang buku, , penulis memantik empat hikmah, benarkah Menulis Buku itu Hebat?.
Ayat pertama, mengutip pernyataan psikolog terkemuka Amerika Serikat, James W. Pennebaker, menegaskan kalau menulis ekspresif kaitannya dengan kesehatan fisik dan mental. Ia meminta orang lain menulis tentang pengalaman traumatis atau tekanan emosional dan menunjukkan tindakan menulis menghasilkan manfaat kesehatan yang signifikan. Pada sisi lain Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi, Prof. Stella Christie yang tegas kalau otak manusia selalu diasah. Karena hanya dengan diasah dengan membaca dan menulis, otak manusia bisa berfungsi dengan baik.
Menurut Prof. Stella, konsep bermain dalam panggung belajar bahwa manusia menggunakan waktunya 60 persen bermain di masa kanak-kanak dan pentingnya bermain di usia masa kanak-kanak. Buktinya, kata Stella anak-anak bermain sekaligus belajar tujuannya mempersiapkan diri agar anak-anak kelak dewasa bisa menghadapi hidup. Caranya, pandai beradaptasi dan pandai memecahkan masalah. Dalam bermain anak-anak bisa menyelesaikan berbagai masalah, misalnya saja, kata Stella bermain kelereng banyak sekali pelajaran tentang matematika dan ilmu fisika.
Nah, disaat anak-anak TK bermain sesungguhnya menciptakan kolaborasi dan sinergi.
Ayat kedua, mengutip salah satu penelitian yang dilakukan LSM kesehatan masyarakat di Inggris menunjukkan bahwa orang yang tidak bisa membaca dan menulis berpotensi mengindap demensia. Penelitian yang dipimpin penulis Jennifer J Manly dari Universitas Columbia, sekolah dokter ahli bedah Vagelos dan diterbitkan Jurnal American Academy of Neurology, menegaskan kalau demensia memiliki karakteristik seperti kehilangan ingatan kronis, perubahan kepribadian atau ganggaun nalar. Demensia acapkali menyerang orang tua.
Apa yang dikemukakan Pennebaker. Jennifer J Manly dan Prof. Stella, penulis menghubungkan pengalaman faktual dengan guru bahasa Inggris penulis semasa di Sekolah Menengah Pekerjaan Sosial Negeri Ujungpandang (SMPS) yaitu almarhumah Dra Hj. Is Fachrudin, istri pendiri Fakultas Pertanian Unhas dan Rektor Unhas, Prof. Dr. I.H. Fachrudin.
Suatu ketika penulis bertanya kepada Dra Hj. Is Fachrudin, apa yang membuat ibu tidak menggunakan kacamata dan masih kuat mengendarai sendiri mobil? Dra. Is Fachrudin menjawabnya, tatkala di usia SMP menjelang memasuki Sekolah Guru Agama (SGA) di Cisadane Bogor. Ia rajin membaca buku-buku agama dan novel sebagai kegiatan rutinnya setiap hari. Dan inilah yang membuat diri almarhum Hj. Is Fachrudin tetap sehat karena tidak memakai kacamata membawa mobil sendiri dan terhindar dari penyakit demensia karena efek kebiasaan membaca buku semasa remaja.
Membaca adalah sehat. Dan siapa yang tidak membaca buku dalam satu detik, maka sama halnya kembali menjadi buta aksara (buta literasi). Bacalah sebelum engkau dibacakan di dinding kuburmu!.
Ayat ketiga, menulis itu Hebat. Siapa yang menulis, maka akan dikenang dalam sejarah. Para ulama besar dunia telah menunjukkan contoh yang baik dengan menulis buku. Misalnya saja, Imam Alghazali menulis Kitab Ihya Ulumuddin menjadi buku tuntunan umat Islam bagaimana menunaikan shalat dengan benar. Demikian pula, Ibnu Sina menulis buku tentang kedokteran Islam berjudul “Assyifa“, Ibnu Batutah seorang pengelana dunia menulis buku “Rihla Ibnu Batutah”, Buya Hamka menulis “Tafsir Al-Azhar”, Ali Yafie menulis buku “Fiqhi Sosial” dan Bey Arifin dengan bukunya “Samudera Alfatiha”.
Tokoh-tokoh ini telah menjadi teladan mulia, kendatipun telah meninggal dunia, namun buku-bukunya masih tetap bersemayam dalam kalbu pembacanya.
Ayat keempat, Merawat dan Menjaga tradisi literasi kita, jauh lebih sulit mempertahankan daripada memulainya. Istilah merawat berarti menjaga, memelihara apa yang telah dilakukan dan telah menjadi kebiasaan, agaknya sulit dilupakan. Kata kuncinya, dibutuhkan tekad yang kuat, komitmen atas apa yang telah menjadi janji diri kita untuk menjadi kegiatan berkelanjutan.
Nah, sikap mempertahankan kebiasaan yang telah menjadi tradisi adalah kerja keras seseorang untuk merawat diri sendiri, baik secara fisik maupun mental, agar tubuh dan pikiran tetap sehat. Caranya melakukannya betapapun sulit, karena bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan setiap hari. Self care merupakan bagian dari self love atau bentuk mencintai diri sendiri. Demikian pula, siapa yang selalu dihinggapi rasa malas, maka sukses pasti selalu menjauh dari dirinya.
Selain malas mempertahankan tradisi literasi yang sehat dengan membaca rutin dan menulis setiap hari, juga bentuk perlawanan terhadap rasa malas yang diartikan sebagai sikap keengganan seseorang melakukan sesuatu yang mestinya harus dilakukan, malas juga adalah sikap tak disiplin, suka menunda waktu, tidak tekun. Pendeknya, malas tabiat manusia yang harus dilawan dan dihilangkan.
Penulis mengutip buku 17 Jurus Gemar Membaca, Halaman 75-79 yang diterbitkan GPMB Sulsel-Yapensi, 2013 yang merupakan karya penulis bersama Ama Saing, menegaskan kalau rasa malas sesungguhnya merupakan sejenis penyakit mental dan menerima apa adanya.
Mengapa disebut budaya menerima apa adanya? Karena rasa malas bisa menimbulkan sifat buruk dan merugikan masa depan seseorang.
Karena itu, jujur harus diakui bahwa sifat malas atau suka menunda waktu salah satu penyakit yang berlawanan dengan kehidupan seorang penulis. Seorang penulis melahirkan karya tulis yang baik kalau mereka tekun dan rajin terus menerus mengasah otaknya membaca dan menulis.
Rasa malas menggambarkan hilangnya semangat seseorang melakukan pekerjaan maupun apa sesungguhnya yang dicita-citakan.
Pertanyaannya, bagaimana cara mempertahankan tradisi membaca menulis kita agar tidak berdamai dengan rasa malas?.
Membuat tujuan. Biasanya orang malas karena tidak punya tujuan hidup, akibatnya motivasi menghadapi hidup semakin kerdil. Sementara orang yang punya garis hidup dan tujuan jelas, mereka memiliki motivasi tinggi untuk mencapai tujuan atau cita-cita hidupnya. Caranya dengan memulai merintis komitmen apa yang ingin dicapai dan mempertahankan apa yang telah dicapai.
Mengasah kemampuan. Orang yang punya tujuan hidup, mereka pasti membuat resolusi dan janji komitmen untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan. Kuncinya, karena mereka punya motivasi yang tinggi untuk mencapai cita-citanya.
Bergaul dinamis dan disiplin diri. Carilah teman sebanyak-banyaknya dengan bergaul dan berdiskusi. Namun kuncinya memulai dan melakukannya dengan membaca dan menulis. Lakukan.. (Red/IndoPos86.net).


Discussion about this post