Oleh : Bachtiar Adnan Kusuma*
Selasa 3 Februari 2026 I Pukul 06.35 WIB
IndoPos86.com – Tidak ada transformasi yang dapat dicapai tanpa dengan pendidikan. Selain karena pendidikan erat kaitannya dengan kecakapan membaca dan menulis, juga dalam berbagai kesempatan, penulis selalu menyampaikan kalau gerakan membaca dan menulis tak hanya siswa menjadi sasaran ajakan. Namun yang lebih penting lagi adalah guru-guru pun perlu didorong memiliki kecakapan literasi yang mumpuni.
Membudayakan gerakan membaca dan menulis haruslah dimulai dari setiap rumah tangga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Ada kekeliruan yang selama ini penulis rasakan, bahwa gerakan membaca hanya diarahkan pada anak-anak didik. Namun kurang menggelinding penulis mendengar adanya gerakan guru dan kepala sekolah membaca dan menulis buku. Inilah yang penulis tegaskan bahwa gerakan literasi adalah gerakan simultan yang semua pihak harus terlibat di dalamnya, ikut serta mengambil bagian. Penulis menyampaikan motivasi literasi dalam berbagai forum sekolah, kampus dan forum masyarakat di berbagai tempat.
Penulis memberi penghargaan karena Bupati Maros Chaidir Syam menyambut baik atas gagasan Menteri Pendidikan Dasar Menengah yang mewajibkan siswa-siswi membaca dan menulis apa yang dibaca di setiap pekan di satuan pendidikan. Penulis diundang beberapa waktu lalu menjadi pembicara di Forum Jumat Sekolah Islam Athirah di Makassar mana kegiatannya diikuti segenap pimpinan, manajemen, guru, staf, dan karyawan baik yang ada Kajaolaliddo maupun di Bukit Baruga Makassar.
Karena itu, jika berbicara literasi, sama halnya berbicara keteladanan. Guru yang sebaiknya membiasakan diri membaca. Bacalah buku 25 menit sebelum mengajar. Perbanyak bacaan kita. Siapa yang banyak membaca buku, ia banyak menguasai referensi. Kecakapan menulis erat kaitannya dengan kebiasaan membaca. Mari bangun kebiasaan membaca dan menulis. Karena hanya dengan kebiasaan membaca yang rutin, otomatis membuka ruang menulis dengan baik. Karena buku adalah produk peradaban. Buku bukan sekedar kumpulan kertas, tetapi buku menawarkan kehidupan baru. Membaca buku selama 1 menit, membuat kita bisa menguasai 300 kata. Dengan membaca 15 menit, kita menguasai 4.500 kata.
Nah, di setiap satuan pendidikan, gerakan literasi bisa dimulai dengan mengajak siswa membaca dan menulis di hari khusus yang ditentukan.
Langkah lain, dengan memperbanyak kompetisi. Mestinya sekolah memberi penghargaan kepada siswa yang rajin ke perpustakaan sekolah. Dalam rangka membangun kebiasaan membaca buku, sekolah memperbanyak lomba menulis. Penulis menekankan, tidak ada perubahan yang bisa dilakukan tanpa pendekatan pendidikan. Berbicara pendidikan, ujung-ujungnya adalah membaca.
Makanya, tak ada sebuah perubahan yang bisa kita capai tanpa pendekatan pendidikan. Negara yang minim Sumber Daya Alam (SDM) bisa maju karena memiliki kekayaan Sumber Daya Manusia (SDM). Saat Jepang hancur akibat bom Hirosyima dan Nagasaki, orang yang pertama kali muncul dan memberi pernyataan inspiratif adalah Kaisar Hirohito, ia mencari guru. “Berapa banyak guru yang masih hidup?” kata Kaisar Hirohito. Artinya, Kaisar Hirohito ingin melakukan restorasi melalui pendidikan.
Gerakan literasi haruslah dimulai dari lingkungan keluarga. Kita butuh keteladanan dari orang tua. Luangkan waktu dalam sehari semalam membaca buku. Setelah itu, melangkah ke lingkungan sekolah dengan menggiatkan gerakan literasi sekolah.
Pertanyaannya, apakah kita mampu menjadikan kebiasaan membaca dan menulis sebagai bagian dari karakter dan perilaku kita? Kebiasaan membaca dan menulis bisa saja menjadi karakter dan perilaku, asal saja dibentuk sejak dini. Kita butuh figur pendidik yang bisa menjadi leader strong terdepan menggerakkan kebiasaan membaca. Kuncinya, dimulai dari diri sendiri, keluarga, kemudian ke masyarakat.
Mengajak membaca dan menulis tak sekadar diksi atau retorika, apalagi program berbasis anggaran. Namun lebih penting lagi, membaca dan menulis haruslah menjadi sikap, karakter dan komitmen diri setiap guru, pendidik dan tokoh masyarakat betapa pentingnya membaca dan menulis sebagai bagian integral pendidikan.
Kalau saja membaca dan menulis telah menjadi budaya, karakter dan perilaku bersama, maka sesungguhnya bangsa kita bisa menjadi bangsa yang besar karena masyarakatnya telah melek literasi. Hanya bangsa yang memiliki kemampuan melek literasi baca dan tulis, bisa menjadi bangsa terdepan.
Siapa yang menguasai ilmu pengetahuan, maka mereka akan sejahtera hidupnya ”Knowledge Drive of Economy”. (Red/IndoPos86.com).



Discussion about this post