Indopos86
Senin, 20 April 2026
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Pendidikan
  • Hukrim
  • Politik
  • Pemerintahan
  • Lainnya
    • Ekbis
    • Khazanah
    • Opini
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Gaya Hidup
  • Budaya
  • Hiburan
  • Tren
  • Otomotif
  • Selebriti
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Wisata-Kuliner
Indopos86
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Pendidikan
  • Hukrim
  • Politik
  • Pemerintahan
  • Lainnya
    • Ekbis
    • Khazanah
    • Opini
  • Advertorial
Indopos86
HOME LIFESTYLE BUDAYA ENTERTAINMENT FASHION OTOMOTIF SELEBRITI SPORT TECHNO WISATA-KULINER

KETAHANAN PANGAN DAN STUNTING : MENAKAR MASA DEPAN DARI ISI PIRING HARI INI

12 Mei 2025
in Advertorial, Opini
KETAHANAN PANGAN DAN STUNTING : MENAKAR MASA DEPAN DARI ISI PIRING HARI INI

Justika Wahyuni Purba Wasekum Bidang Pemberdayaan Umat HMI Badko Sumatera Utara. Foto: Istimewa/IndoPos86.com.

22
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Justika Wahyuni Purba


Senin 12 Mei 2025 I Pukul 18.25 WIB


IndoPos86.com – “Terwujudnya Ketahanan Pangan Nasional berbasis kedaulatan dan kemandirian pangan yang tangguh dan berkelanjutan untuk Indonesia maju yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berdasarkan gotong royong.”

Visi dari Badan Pangan Nasional ini menggema gagah dalam dokumen-dokumen kebijakan. Namun yang menjadi pertanyaannya apakah gema luhur itu tak pernah benar-benar sampai ke perbatasan negeri, ke rumah-rumah kecil di pesisir, atau pulau-pulau terluar yang masih menggantungkan makan dari cuaca hari ini?

Ketahanan pangan masih sering dipahami secara sempit dalam wacana kebijakan yaitu asal ada beras, maka urusan pangan dianggap selesai. Padahal, konsep ketahanan pangan jauh lebih luas. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mendefinisikannya sebagai kondisi ketika semua orang, setiap saat, memiliki akses fisik, sosial, dan ekonomi terhadap pangan yang cukup, aman, dan bergizi untuk memenuhi kebutuhan hidup aktif dan sehat.

Realitanya aspek gizi dan keamanan pangan masih sering tertinggal dalam implementasi kebijakan. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Aritonang, dkk. (2020) menunjukkan bahwa anak-anak dari keluarga yang mengalami kerawanan pangan memiliki risiko stunting 2–3 kali lebih tinggi. Mereka bukan tidak makan, tetapi apa yang dimakan tidak memenuhi kebutuhan gizi esensial seperti protein hewani, vitamin A, dan zat besi.

Sihite (2022) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa adanya hubungan signifikan antara ketahanan pangan dan stunting pada usia balita. Ketahanan pangan adalah hal penting yang bisa memengaruhi terjadinya stunting pada balita. Di tingkat keluarga, ketahanan pangan perlu ditingkatkan untuk membantu mengatasi masalah gizi seperti stunting. Ini karena pertumbuhan dan perkembangan balita sangat bergantung pada terpenuhinya kebutuhan makanan, baik dari segi jumlah maupun cara memanfaatkannya. Jika makanan dalam keluarga cukup, maka kebutuhan gizi balita juga bisa terpenuhi dengan baik.

Maris Mumtaza (2022) dari Universitas Airlangga menguatkan temuan ini dengan meneliti keterkaitan antara ketahanan pangan, keragaman pangan, dan stunting pada anak usia 24–59 bulan. Ia menyimpulkan bahwa keragaman makanan yang dikonsumsi balita memiliki korelasi kuat terhadap kejadian stunting. Ketika anak terbiasa mengonsumsi makanan dari hanya satu atau dua kelompok pangan saja, risiko stunting meningkat secara signifikan. Keragaman inilah yang sering luput dari perhatian banyak keluarga, bahkan dalam rumah tangga yang secara ekonomi tergolong cukup. Misalnya, anak-anak yang hanya mengonsumsi nasi dan mi instan setiap hari tanpa asupan sayur atau protein hewani.

Dua penelitian ini menunjukkan bahwa isi piring hari ini sangat menentukan masa depan anak-anak Indonesia. Bukan hanya soal cukup atau tidaknya makanan, tetapi juga sejauh mana keberagaman dan kualitasnya. Ketahanan pangan yang tangguh bukan sekadar urusan ketersediaan, tapi juga bagaimana keluarga memahami pentingnya gizi seimbang, terutama pada masa-masa emas pertumbuhan balita. Hal tersebut memperkuat bahwa ketahanan pangan adalah rumah tangga penting bagi balita karena pemenuhan kebutuhan zat gizi yang berasal dari asupan harian tidak hanya memberikan pengaruh kesehatan untuk jangka pendek saja, akan tetapi perkembangan sosial, fisik, dan mental untuk kesehatan serta kesejahteraan jangka panjang juga (Sanggelorang, dkk., 2024).

Pemerintah memang sudah meluncurkan program penanganan stunting, namun perlu adanya langkah yang lebih struktural. Karena ketahanan pangan tidak bisa dilepaskan dari perbincangan ketahanan gizi, stabilitas harga pangan bergizi juga dukungan pada produksi lokal yang lebih beragam. Ketahanan pangan harus dipahami sebagai ekosistem yang melibatkan petani, nelayan, orang tua, sekolah, pasar tradisional, UMKM, dan tentu saja, negara.

Kini saatnya menggeser fokus dari kuantitas ke kualitas, dari beras ke protein, dari cukup kenyang ke cukup gizi. Masa depan Indonesia ada dalam tubuh anak-anak hari ini. Dan tubuh itu tumbuh atau tidak, tergantung apa yang kita sajikan setiap hari, dalam keluarga, sekolah, maupun kebijakan nasional.

Menurut FAO (2021) menekankan bahwa pekarangan pangan keluarga dapat memberikan kontribusi besar terhadap konsumsi pangan bergizi, terutama di wilayah rentan, maka penting memberikan pelatihan pertanian keluarga (family farming) berbasis pekarangan, terutama kepada ibu rumah tangga dan kelompok dasawisma. Maka mengaktifkan kembali peran posyandu dan PKK sebagai pusat edukasi gizi dan literasi pangan di level rumah tangga.

UNICEF & WHO (2020) menyebut bahwa intervensi yang menyasar akses ekonomi terhadap makanan bergizi terbukti menurunkan kejadian stunting. Dengan itu menyediakan subsidi harga atau distribusi pangan sehat bagi keluarga rentan, terutama untuk bahan makanan dengan kandungan protein tinggi menjadi peluang.

Jadi, saat kita membicarakan ketahanan pangan, pertanyaannya bukan lagi ada makanan atau tidak, tapi apakah makanan yang dimakan cukup bergizi untuk tumbuh dan belajar? Stunting adalah indikator jangka panjang dari kerentanan bangsa ini terhadap ancaman kualitas SDM. Ia bukan hanya soal perut kosong, tapi tentang masa depan yang suram jika kita gagal mengisi piring hari ini dengan tepat.


Referensi: 

Aritonang, E.A., Margawati, A. dan Dieny, F.F. (2020) “Analisis pengeluaran pangan, ketahanan pangan dan asupan zat gizi anak bawah dua tahun (BADUTA) sebagai faktor risiko stunting,” Journal of nutrition college, 9(1), hal. 71–80.

Badan Pangan Nasional, (2025). Visi-Misi Badan Pangan Nasional. https://badanpangan.go.id/wiki/visi-misi.

FAO. (2021). Home gardens for resilience and recovery: Strengthening local food systems. Food and Agriculture Organization of the United Nations. https://www.fao.org.

Sanggelorang, Y, dkk (2024) Kajian Ketahanan Pangan Rumah Tangga dan Stunting di Daerah Pedesaan Pesisir Dan Pulau Kecil Terluar. Jurnal Kesehatan Masyarakat, Volume 8, Nomor 1.

Sihite, N (2022). Literatur Review: Keterkaitan Ketahanan Pangan dengan Kejadian Stunting Pada Balita. Gema Kesehatan, Volume 14, Nomor 1.

UNICEF & WHO. (2020). The state of the world’s children 2020: Children, food and nutrition – Growing well in a changing world.

https://www.unicef.org/reports/state-of-worlds-children-2020.


Penulis Adalah Wasekum Bidang Pemberdayaan Umat HMI Badko Sumatera Utara

Tags: Badko HMI SumutJustika Wahyuni Purba
Previous Post

MEMAKSIMALKAN PERAN KADER HMI DALAM PENGUATAN PANGAN INDONESIA EMAS 2024 DI SUMATERA UTARA

Next Post

MENINGKATKAN DAYA KUALITAS MUTU PANGAN BAGI MASYARAKAT DI SUMATERA UTARA

Next Post
MENINGKATKAN DAYA KUALITAS MUTU PANGAN BAGI MASYARAKAT DI SUMATERA UTARA

MENINGKATKAN DAYA KUALITAS MUTU PANGAN BAGI MASYARAKAT DI SUMATERA UTARA

Discussion about this post

Terhangat Sepekan

  • Razia Gabungan Bersama APH, Lapas Narkotika Pematangsiantar Perkuat Komitmen Zero Halinar Sambut HBP ke-62

    Razia Gabungan Bersama APH, Lapas Narkotika Pematangsiantar Perkuat Komitmen Zero Halinar Sambut HBP ke-62

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Irwan Susanto Purba: Budaya Adalah Jati Diri Simalungun yang Tak Boleh Hilang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polrestabes Medan Musnahkan 52 Kg Sabu dan 50 Kg Ganja, 3 Kurir Jaringan Internasional Ditangkap ‎

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • BNI Janji Kembalikan Dana Nasabah CU Paroki Aek Nabara Rp28 Miliar Pekan Ini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Driver Ojol Tewas, Motor Terseret 500 Meter usai Ditabrak Kereta Api‎

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pos-pos Terbaru

  • Driver Ojol Tewas, Motor Terseret 500 Meter usai Ditabrak Kereta Api‎
  • BNI Janji Kembalikan Dana Nasabah CU Paroki Aek Nabara Rp28 Miliar Pekan Ini
  • Darlian Pone Buka Muscam PK Partai Golkar Kecamatan Kasui, Dilanjutkan Gerakan Lampung Menanam
  • Dugaan Mafia Peradilan di PN Stabat, Kuasa Hukum Soroti Putusan Verstek dan Kejanggalan Proses Persidangan
  • Dipercaya Tiga Kali, Hasyim Perkuat Dominasi PDIP di Kota Medan
Indopos86

© 2022 Sumber Berita | Developed by Websiteku.co.id

Navigate Site

  • #150 (tanpa judul)
  • Redaksi

Follow Us

No Result
View All Result
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Pendidikan
  • Hukrim
  • Politik
  • Pemerintahan
  • Ekbis
  • Lainnya…
    • Khazanah
    • Opini
    • Gaya Hidup
    • Budaya
    • Hiburan
    • Tren
    • Otomotif
    • Selebriti
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Wisata-Kuliner
  • Advertorial

© 2022 Sumber Berita | Developed by Websiteku.co.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist